Gue baru mulai nge-gym.
Bukan karena tiba-tiba punya target badan ideal, bukan juga karena lagi semangat bikin resolusi hidup sehat. Jujur, belum kepikiran sampai ke sana.
Alasannya lebih sederhana: gue capek.
November tahun lalu, terakhir kali gue cukup rajin jalan pagi, lari pagi, atau bersepeda. Waktu itu hampir setiap hari gue gerak, kurang lebih selama tiga bulan. Rasanya badan lebih fit, tidur lebih bagus, nggak gampang lelah, berat badan lebih terjaga, dan kepala rasanya lebih ringan. Stres juga lebih manageable.
Waktu itu gue juga sempat intermittent fasting. Aneh juga kalau diingat-ingat, makan sedikit aja udah cukup. Padahal biasanya gue termasuk orang yang kalau makan, nggak jarang nambah.
Tapi semuanya mulai berantakan ketika ada satu acara yang butuh fokus besar. Latihan mulai dikorbankan. Pola makan ikut berantakan. Makanan manis dan minuman manis mulai masuk lagi tanpa rasa bersalah. Awalnya mungkin terasa seperti jeda sebentar, tapi ternyata ritme yang sudah dibangun pelan-pelan hilang begitu saja.
Setelah itu, beberapa kali gue coba mulai lagi.
Tapi ya gitu. Bertahan beberapa hari. Paling lama seminggu.
Beberapa bulan terakhir juga terasa cukup berat. Kerjaan banyak, pikiran penuh, dan gue ngerasa stres. Pelariannya ke main game. Awalnya mungkin karena butuh hiburan, tapi ujung-ujungnya tidur jadi makin berantakan, makan makin seenaknya, dan badan malah terasa makin nggak enak.
Yang bikin kesel, siklusnya jadi muter.
Stres, terus cari pelarian. Pelariannya bikin badan makin nggak enak. Badan makin nggak enak, akhirnya makin stres. Terus merasa bersalah karena tahu harusnya bisa lebih baik, tapi tetap susah mulai.
Beberapa kali Ciko ngajakin gue nge-gym. Minimal biar badan lebih sehat. Tapi beberapa kali juga gue tolak. Alasannya klasik: malas, nggak ada motivasi, belum siap, nanti-nanti aja.
Sampai di satu titik gue mulai capek sendiri.
Gue sempat tanya ke teman-teman gue yang rajin banget nge-gym. Gue tanya, “Motivasinya apa sih?”
Salah satu teman gue jawab, “Suka aja nge-gym.”
Jawabannya biasa banget. Tapi entah kenapa gue kepikiran.
Gue juga tanya, biasanya latihan kapan. Dia jawab, “Sepulang kerja aja.”
Sesimpel itu.
Mungkin selama ini gue terlalu nunggu motivasi yang besar. Padahal buat sebagian orang, olahraga bukan lagi sesuatu yang harus dimotivasi terus-menerus. Dia sudah jadi bagian dari ritme hidup. Kayak pulang kerja, terus mampir latihan. Bukan drama besar. Bukan transformasi hidup. Cuma kebiasaan.
Anak-anak di kantor juga beberapa mulai nge-gym setelah kerja di Fithub dekat kantor. Ciko juga sering latihan bareng mereka, entah pilates, zumba, atau latihan lain. Dari situ gue mulai ngerasa, kayaknya seru juga kalau olahraga nggak dilihat sebagai proyek besar, tapi sebagai aktivitas biasa yang bisa dilakukan bareng-bareng.
Hari Sabtu kemarin, pas gue pulang ke Pandeglang, akhirnya gue coba mulai. Kebetulan teman gue yang tadi juga tinggal di sana, jadi gue minta bantu dia nemenin setidaknya untuk mulai nge-gym.
Dan ya, gue mulai.
Nggak ada ekspektasi badan harus jadi seperti apa. Nggak ada target sixpack. Nggak ada rencana besar. Belum ada juga ambisi untuk jadi orang fitness.
Untuk sekarang, ekspektasinya cuma satu: semoga ini bisa jadi cara buat melepas stres.
Kalau bonusnya nanti badan lebih sehat, tidur lebih bagus, atau hidup jadi lebih teratur, ya bagus. Tapi untuk saat ini, gue cuma pengin punya satu ruang kecil untuk bergerak lagi. Satu aktivitas yang bikin gue keluar sebentar dari kepala sendiri.
Mungkin mulai lagi memang nggak harus selalu datang dari motivasi besar.
Kadang mulai lagi datang dari rasa capek. Dari rasa kesel sama diri sendiri. Dari sadar bahwa badan juga ikut menanggung semua hal yang selama ini kita pikir cuma terjadi di kepala.
Gue nggak punya tips apa-apa.
Cuma pengin mencatat bahwa gue sedang mencoba mulai lagi.
Mudah-mudahan kali ini bisa lebih bertahan.
Find me on: